Propaganda Kufur dalam Film ”?”

Film “?” garapan Hanung Bramantyo telah membuat panas telinga para ulama yang mendengar ceritanya.
Yang ikut menonton langsung dalam launcing pemutarannya di bioskop Jakarta Teater, tidak kalah terperanjatnya dengan jalan cerita yang disuguhkan. Bagaimana tidak, sebagai orang yang beragama Islam rasanya aneh jika tega dan bangga memberikan stereotype buruk terhadap umat Islam. Sebaliknya mengangkat derajat orang kafir dengan setinggi-tingginya dan membela dengan sekuat tenaga.Film yang mengambil lokasi syuting di kota Semarang, Jawa Tengah tersebut, sangat jelas membawa misi toleransi ala kaum pluralis yang tidak menghargai batasan-batasan nilai agama, khususnya Islam. Sehingga perbedaan iman tidak harus menjadi pertimbangan, sampai-sampai dituliskan dalam poster film itu, “masih pentingkah kita berbeda?”.
Meruntuhkan Syariat atas Nama Toleransi

Ajaran syariat Islam-pun diusahakan untuk diruntuhkan dalam film yang menyisakan “?” status keimanan penggarapnya. Atas nama toleransi, diciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Seolah ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Sesungguhnya seluruh ulama bersepakat bahwa menjual dan membeli babi bagi umat Islam adalah haram. Landasan kesepakatan ulama ini adalah hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah yang mendengarnya langsung dari lisan Nabi saat Fathu Makkah)

Murtad Bukan Masalah Kecil

Hanung pun mengesankan dalam filmnya tersebut, murtad (berpindah agama dari Islam) bukanlah persolan besar. Hal tersebut digambarkan, ketika seorang wanita (diperankan Endhita) yang sebelumnya beragama Islam kemudian berpindah agama alias murtad menjadi seorang pemeluk Kristen yang taat. Ada sebuah ungkapan yang terlontar dari bibir sang murtadin tadi, bahwa dirinya pindah agama tidak berarti mengkhinati Tuhan.  Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.

Sementara itu murtad, merupakan dosa yang besar dalam Islam. Keimanan batal karenanya dan amal shalih terhapus sehingga jika pelakunya mati di atasnya akan kekal di neraka. Bahkan, hukuman di dunianya menurut syariat menunjukkan murtad bukan persoalan ringan, yakni diberi istitabah (kesempatan taubat) selama tiga hari, jika tetap tidak mau kembali kepada Islam maka dihukum mati.

Allah Ta’ala menjelaskan tentang nasib orang murtad di dunia dan akhirat,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Paham Kufur dalam Film “?”

Menurut KH A. Cholil Ridwan, Ketua MUI Pusat Bidang Budaya, yang ikut menyaksikan langsung film Hanung pada Rabu malam (6/4/2011) di Jakarta, menilai bahwa film garapan Hanung tersebut jelas-jelas menyebarkan faham Pluralisme Agama yang telah difatwa haram. “Film ini jelas menyebarkan faham Pluralisme Agama yang telah difatwakan sebagai faham yang salah dan haram bagi umat Islam untuk memeluknya,” ujar Cholil dalam penjelasan tertulisnya kepada voa-islam.com, Kamis (7/4/2011).

Indikasi faham pluralisme ini, jelas Kiai Cholil, terlihat dalam narasi di bagian awal, “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Dengan pandangan seperti itu, ujar Kiai Cholil, pihak pembuat film jelas memposisikan dirinya sebagai seorang non Muslim penganut faham netral agama, karena semua agama dipandang sama-sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama.

Seseorang muslim seharusnya meyakini agama Islam saja yang benar. Satu-satunya agama yang diridhai Allah Ta’ala, Tuhan alam semesta. Siapa yang memeluknya dan mengamalkan ajarannya, maka akan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya (surga). Sebaliknya, siapa yang tidak beragama Islam, dia disebut orang kafir (ingkar terhadap Penciptanya) sehingga kelak akan dimasukkan ke dalam neraka.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhriat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surge kecuali jiwa yang muslim.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Maka apa yang diyakini dan disuarakan kaum pluralis yang menganggap semua agama sama, semua benar dan lurus, semuanya adalah jalan kepada Allah Ta’ala, dan semuanya bisa membawa kepada surga adalah sebuah kekafiran terhadap akidah Islam yang mengeluarkan pelakunya dari wilayah Islam. Maka apa yang disuarakan dan dipesankan Hanung Bramantyo dalam  filmnya “?” adalah suara kekafiran yang harus diwaspadai umat Islam. Pesan tersebut haram diikuti dan sangat membahayakan keimanan, karena bisa menyebabkan keluar dari Islam. Kalau Islam sudah hilang, dengan apa akan masuk surga?. Hadanallah wa Iyyakum ajma’in!!

***
Dikutip dari  www.nahimunkar.com
Terima kasih telah membaca artikel tentang Propaganda Kufur dalam Film ”?” di blog TEGAK DI ATAS SUNNAH jika anda ingin menyebar-luaskan artikel ini dimohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silahkan bookmark halaman ini di web browser anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.

Artikel terbaru :